Minggu, 13 November 2011

Herry Dim "Sang Kuring" Pelintas Batas : Pohaci, Lamento, dan Vita Brevis

Catatan: Mamannoor


Saya mulai mengenal nama Herry Dim menjelang tahun 80-an melalui tulisan-tulisannya di H.U. Pikiran Rakyat (Bandung). Pikiran, gagasan, dan bahasanya cukup cerdas. Saya sebagai calon penulis waktu itu, tentu saja terpikat untuk mengenalnya lebih dekat. Akhirnya saya bertemu "sosok" Herry Dim beberapa bulan sebelum ia berpameran tunggal dengan tajuk Senirupa Ritus - Ritus Senirupa (1986).
Postur tubuhnya kecil, imut-imut, kepalanya berdahi lebar, rambut gondrong, wajah yang selalu serius, dan jarang senyum. Sikapnya terkadang inferior tetapi menyiratkan keberanian dan kekerasan. Sorot matanya memendam kegetiran yang panjang, memancarkan kekuatan gairah kerja keras dan luapan "dendam." Kesan pertamaku, Herry Dim tergolong laki-laki yang kaku, selalu menyimak dan menyelidik lawan bicara, tapi ia sendiri tidak banyak bicara.
Sekali bicara, meluncur ajakan untuk berdebat dengan wawasan yang cenderung filosofis. Segera saya punya kesimpulan, Herry Dim cocok sebagai teman diskusi.

**

Rupanya bagi Herry Dim, perkenalan kami diawali dengan sebuah kesan yang sangat tidak menyenangkan. Ia sempat tersinggung ketika saya mempertanyakan ihwal pertanggungjawaban karya-karyanya.*) Sesungguhnya kritik-kritik yang saya Iontarkan tidak berlebihan, sebab pernyataan serupa pun diungkapkan Popo Iskandar dalam komentarnya, "yang penting adalah sejauhmana keuletannya, sejauhmana ia bertahan mempertanggungjawabkan pilihannya" (Popo Iskandar, Pengantar Pameran Herry Dim, 1986). Rupanya pernyataan ini bagi Herry Dim sempat menggugah kembali anggapannya, bahwa kebanyakan orang-orang dari kalangan pendidikan tinggi seni rupa tahun 70-an selalu sibuk dengan soal pertanggungjawaban. Akan tetapi Herry Dim pun menyadari sepenuhnya bahwa soal pertanggungjawaban memang bagian penting dalam proses berkesenian, dengan tidak harus merujuk apakah si seniman ini ada di lingkungan pendidikan tinggi atau bukan. Dengan sangat bijak kritik saya ditanggapinya secara terbuka. "Ketika itu pula saya genjot proses berkarya, olah rasa dan olah pikir...," tulisnya di album riwayatnya.

**

Antara kesadaran berfikir dan olah rasa, ada dialog panjang dalam diri Herry Dim (Mamannoor, Pengantar Pameran Herry Dim bertajuk "Menyongsong Millenium," 1993). Ini tercermin dalam tuturannya yang lugas bahwa, perbuatan melukis pada galibnya senantiasa didasari oleh sebuah "kesadaran" berbuat. Rupanya pengalaman panjang Herry Dim disertai pula pikiran-pikirannya yang muncul. Selain dari perjalanan empiris, terutama sekali sangat diyakinkan oleh bimbingan psiko-analisis (Freud), psiko-analitis (Jung), dan sedikit psiko individual (Alder). Yang saya tahu, memang Herry Dim teramat suka membicarakan perihal persoalan psikologi dari ketiga jawara ini. Bahkan saya pun tahu, ia banyak membaca persoalan-persoalan lain, seperti filsafat, sejarah, kebudayaan, ilmu seni, dan kemasyarakatan. Tidak hanya membaca, Herry Dim cukup fasih menulis dan membicarakannya. Tak heran apabila saya pernah berharap banyak agar Herry Dim memilih jalan menjadi seorang pemikir dan penulis kebudayaan dan kesenian.
Tapi rupanya, ia lebih memilih kariernya sebagai seorang seniman. Dulu, ia "tamak." Kendati latar belakang studinya dari bidang teater di Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Bandung, namun hampir seluruh bidang kesenian ditekuninya; musik, tari, teater, sastra, dan seni rupa. Saya sempat mempertanyakan, mau jadi seniman apa dia? Memang tiada yang melarang andai pun dia mau merangkul semuanya. Metateater (1990,1991) yang digarapnya (juga melibatkan saya) sebagai salah satu pikiran dan karya kreatifnya yang memadukan keberbagaian unsur itu. Juga kami sering tampil dalam pameran bersama dan berdua, antara lain saat itu Herry Dim mengetengahkan karyanya yang berjudul "Instalasi 10 Biografi" (Galeri Cemeti, 1993). Sejak itu saya lihat ia lebih berkosentrasi sebagai perupa. Barangkali karena bidang ini telah memberikannya banyak peluang untuk lebih ajeg sebagai seniman, bahkan memberi kesempatan melanglang ke berbagai negara.

**

Belakangan saya makin mengenal Herry Dim, pergaulannya luas, mudah memperoleh teman berbincang, karena memang ia menjadi salah seorang nara-sumber wacana kesenian di kota Kembang. Terbukti, ia bersama beberapa rekannnya mendirikan forum Kelompok Sepuluh, sebuah lingkaran tukar-pikiran perkara kebudayaan dan kesenian bagi para pemikir dan penulis muda di kota Bandung. Saya menjadi salah seorang awak pendukungnya. Barulah muncul kesan berikutnya kepada saya, Herry Dim mudah jadi seorang sahabat yang terbuka. Seiring dengan perguliran waktu, Herry Dim tumbuh sebagai seorang seniman yang mulai diperhitungkan dalam berbagai forum. Salah satu karya yang dibangunnya bersama Hendrawan Riyanto, "Rakit" pada Festifal Istiqlal II-1995, banyak mendapat sorotan dan kerumunan tokoh-tokoh sastra, teater, dan seni rupa.

Sang Perupa

Jejak-jejak penekunan Herry Dim sebagai pemikir, pengamat, dan penulis berbagai bidang seni masih dapat ditelusuri dalam manifestasi ungkapannya. Pada setiap karya seni rupanya terdapat kebernasan pikiran-pikiran, kepekaan pengamatan, dan kepedulian penulisannya. Ia selalu sadar terhadap bahasa dan teks visual serta narasi. Kecermatan rancangan setiap unsur bahasa pengutaraan selalu dipertaruhkan pada setiap ungkapannya. Di balik bahasa pribadinya terkandung fenomena yang hendak disodorkan sebagai suatu makna pemikiran. Walaupun begitu, ada bagian-bagian dari unsur itu dibiarkannya menjadi noumena. Hal-hal empirik yang pada mulanya dimiliki secara pribadi (dari hasil pengalaman panjangnya, seperti penghayatan kegetiran, kepahitan, kemiskinan, dan keterkungkungan), ia pikirkan menjadi bagian dari realitas umum. Dengan kata lain, bentuk-bentuk pikiran yang dikemukakannya merupakan kenyataan pada dirinya sendiri atau diri setiap orang yang tersentuh. Ada bagian-bagian dari pernyataan pikiran Herry Dim yang menerobos tanpa ia sadari sebagai suatu yang anomali. Hal itu bisa dianggap sebagai wilayah di luar kesadarannya, akibat dari suatu proses intensitas dan keberlangsungan proses.
Herry Dim selalu yakin bahwa apa yang terpikirkan semata-mata berada dalam jangkauan wilayah pengamatannya. Kalaulah hasil pengamatan ini keluar sebagai impuls dan ekspresinya, ia melahirkannya melalui suatu kontrol pemaknaan yang selalu bisa dituliskan. Ikon-ikon yang tampak sangat figuratif di setiap bagian kanvasnya selalu dibebani makna.
Kerja seperti ini bagi umumnya perupa niscaya perlu dilakukan dalam kontrol yang sangat efektif. Bentuk, warna, dan garis dalam pikiran, pengamatan, dan 'tulisan' Herry Dim seakan-akan harus bisa dipecahkan dan ditalar dalam proses pemaknaan yang teramat disadarinya. Jika tak cermat, seluruh penempatan pemaknaan ini akan menghasilkan komposisi hasil akhir yang kering.
Untunglah Herry Dim tahu soal musik, gesture, dan nuansa. Semua itu bisa melunakan kekakuan pikiran-pikirannya dalam bahasa visual. Hasil lainnya adalah melahirkan kesadaran Herry Dim terhadap ruang, walaupun nyaris seluruh karya-karyanya cenderung datar ('tipis'). Terkecuali saat Herry Dim menggarap karya-karya me-ruang, seperti instalasi, atau saat ia menghadirkan unsur barik (tekstur).
Di dalam persepsi Herry Dim sebagai perupa, semua kenyataan pikiran, pengamatan, dan penulisannya yang sadar atau tak sadar menciptakan 'dunia'-nya sendiri, dunia sebagai kumpulan fakta-fakta yang telah dimetaforkan olehnya. Tapi, sekali lagi, Herry Dim kerap meminjam fakta-fakta umum untuk merangkul makna dari bahasa-bahasa umum, sehingga bisa ditangkap bahwa Herry Dim bermain dengan simbol-simbol. Bahasa visual yang digunakan Herry Dim terkadang mendekati pemaknaan yang sederhana dan mudah untuk dicerna, sehingga ia berhasil menularkan pikiran-pikiran dan hasil pengamatan yang tidak berkesan imajinatif atau fantastik.
Di sini Herry Dim bisa dijadikan contoh sebagai perupa yang tetap ingin menjaga seluruh pikiran dan bahasa visualnya melalui suatu upaya untuk memberikan maknanya secara sederhana. Atau setidaknya, bentuk-bentuk yang disodorkannya bisa menggugah orang untuk menerawang jauh terhadap makna yang berkenaan dengan mitos (Pohaci : Daya Hidup), konteks tematik (Lamento : duka cita), dan simbol (Pertumbuhan : proses perubahan). Di balik ikon-ikon yang disodorkannya itu Herry Dim atau orang-orang yang menerimanya dapat menulis panjang lebar dengan bahasa pertangjawabannya (boleh sebagai credo atau apologi). Seluruh komposisi unsur-unsur perupaan pikiran dan hasil pengamatan Herry Dim, dengan penekanan musikal, gesture, dan nuansanya merupakan bagian-bagian ungkapan yang cenderung sangat puitik. Oleh karena itu, tak mengherankan apabila WS. Rendra sangat bisa mengangkap bahasa visual Herry Dim dengan penulisan narasinya dalam bentuk puisi yang indah.
Herry Dim sebagai perupa mencoba merangkul berbagai wilayah fakta melalui kejelian pengamatannya, wilayah makna dengan pikiran-pikirannya, dan wilayah deskripsi dengan teks visual maupun narasinya. Di sini Herry Dim bisa dibicarakan sebagai seorang perupa yang memang banyak melakukan perjalanan, pengalaman empirik, dan penalaran makna-makna. Ia melintasi batas-batas ke-ruang-an yang tidak lagi harus diperdebatkan : apakah di dalamnya ada kehendak membentuk (will to form), kehendak memilah dan memilih (will to abtracted), dan kehendak merenung (will to contemplated). Sodoran-sodorkan pikiran, hasil pengamatan, dan pengungkapannya sudah bisa lebur, kental, cair, dan sublim. Ia melewati wilayah masa lalu (yang archaic, tradisional), masa kini (memodernitas sikap), dan masa depan (yang apresiatif terhadap predik-predik). Ia bisa telah leburkan semua itu dalam hubungan yang menurut Simel sebagai segitiga 'penciptaan bentuk-objektivikasi bentuk-apresiasi bentuk. Herry Dim sangat beruntung sebagai perupa yang memang kebetulan hidup dalam perguliran waktu dan wilayah perbincangan tradisional, modernis, kontemporer, dan post-modernis.
Ia perupa yang tumbuh secara dekat dengan perbincangan-perbincangan zaman itu. Oleh karenanya, menangkap sosok pikiran dan karya-karya Herry Dim dapat ditembus dan didekati melalui cara pandang yang lebih terbuka lebar dari sekian wacana yang tengah berlangsung dewasa ini.
Sebagai perupa, Herry Dim tumbuh dari hasil perjalanan yang panjang. Sebagian besar diantaranya melalui lorong-lorong kehidupan yang sempat membuatnya getir, pahit, dan terpinggirkan. Kesenian baginya ibarat katup pelepasan dari proses pengalaman psikologisnya yang pernah menghimpit dan membelenggu. Kesenian dijadikannya sebagai pelepasan dan pembebasan dari beban-beban masa lalunya, dapat berarti masa kapan pun bagi yang masih mengalaminya, masa kapan pun bagi manusia yang berada dalam himpitan. Dulu, ia hanya mampu menerima, tapi kini ia selalu mencari ketegangan-ketegangan kemanusiaan tersebut untuk mempersubur wilayah kreatifnya. Banyak ungkapan-ungkapannya yang menjurus nada bertanya, berteriak, dan mewakili siapa pun yang tetap akan melakukannya.
Sampai batas ini, tulisnya, boleh jadi karya-karyaku menjadi semacam media dialektika yang berada dalam konteks pengertian 'prinsip keseimbangan'nya Freud.
Memang ia didorong untuk menampilkan borok-borok, kesakitan, pertanyaan, protes, mimpi, dan desakan-desakan buruk sisi kemanusiaan.
Hal-hal itu yang menjadi ketegangan dan mengganggu pikiran, pengamatan, dan pengungkapannya. Rupanya ia sangat menikmati ketegangan dan gangguan itu sebagai lahan subur wilayah kreatifnya. Aktivitas di luar predikatnya sebagai perupa, Herry Dim memasuki wilayah-wilayah yang kerap mengganggu 'ketenangan' kesehariannya, seperti kegiatannya di bidang sosial dan kemanusiaan. Ia tampak lebur di dalamnya. Karenanya ia patut menyusun ketegasan bahwa, "buat saya, tak ada kreativitas tanpa gangguan. "
Manakala ia melukis, ia benar-benar jadi penikmat proses. Tetapi pada saat ia membicarakan karya-karya seni rupa, ia benar-benar jadi pengamat hasil akhir. Ia bisa membedakan antara saat intuisi bekerja dan saat logika diperhadapkan dan diuraikan. Kendati demikian, ketika kami pameran bersama tahun 1995, akhirnya ia seperti berikrar : "biarlah saya jadi seniman saja, Mamannoor jadi penulis". Sejak itu Herry Dim benar-benar menghabiskan waktunya untuk berkarya (seni rupa) dan berpameran, sementara saya benar-benar jadi penulis. Saya kira ini menjadi momentum penting bagi kami sebagai dua sahabat (yang menurut Herry Dim ibarat bertukar tempat). Walaupun belakangan, Herry Dim masih sesekali mempublikasikan tulisan-tulisannya, sedangkan saya tidak pernah berpameran lagi.

Sang Prosesis

Setiap seniman adalah prosesis (selalu berproses kreasi sampai kapan pun). Herry Dim terus berproses kreasi, melahirkan nomor-nomor artefak karya seni rupa, dokumen karya seni pertunjukan (yang me-ruang dan me-waktu, termasuk instalasi dan pentas), teks-teks visual dan puisi, serta tema-tema gagasan dan pikirannya. Ia sangat menikmati proses dengan ketelanjangan dan ketermenungan pikirannya.
Sejak tahun 1995 itu saya benar-benar menjaga jarak terhadap proses-prosesnya, namun tetap setia mengikuti pergelaran karya-karyanya. Di sini saya ingin sekali menoreh dan menaruh catatan-catatan penting berkenaan dengan beberapa proses yang sangat berarti dalam perjalanan yang mengantarkan Herry Dim hingga ke akhir abad dan membuka abad baru ini.
Dasar proses yang dimanfaatkan Herry Dim untuk berangkat ke dunia seni rupa adalah keterampilan menggambarnya yang cukup baik. Keterampilan (skill) yang dimiliki Herry Dim cukup komplit; conceptual-skill yang dilandasi sikap analasisnya, practical-skill yang didasari ketekunan mengutak-atik bahasa visual.
Herry Dim sering mengakui bahwa ia seorang otodidak (tapi selalu pula saya sanggah: bukankah semua seniman juga otodidak?), namun apa yang dilakukannya memang seperti kebiasaan para scholar di lembaga pendidikan tinggi seni rupa. Bahkan beberapa premis-premis ilmiahnya bisa lebih ilmiah ketimbang para scholar yang tidak memanfaatkan sikap dan tradisi ilmiah.
Herry Dim mampu menggambar bentuk, baik mimetik maupun imajinatif, dengan olah bahasa visual yang tepat. Karya-karya illustrasinya banyak dimanfaatkan guna berbagai keperluan. Secara verbal Herry Dim sungguh fasih mengurai berbagai sifat dan perlakuan teknis mengenai bahan, alat, dan keandalan beberapa media. Ia bisa menggubah proses kerja dan karya grafis, patung, gerabah, dan serat. Ia bisa njelimet membicarakan dan mempraktekan olah teknik bahan-bahan dan alat. Untuk itu, sekali waktu saya mendorongnya untuk bisa mengajarkan kemampuannya ini kepada mahasiswa S-1. Tetapi ketentuan administrasi pendidikan S-1 yang mengharuskan ia terlebih dahulu memiliki 'sertifikat' mengajar dengan predikat lulus S-1, pastilah akan menghambat niatan saya. Ia pernah tergerak untuk menyelesaikan pendidikan S-1 nya di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI, dulu ASTI) Bandung. Baru setengah jalan ia mandek (dengan alasan yang tak perlu dicatatkan di sini). Akhirnya, memang tidak perlulah semua itu. "Lupakan Her. Yang penting kamu terus berproses untuk tidak jadi apapun, terkecuali jadi dirimu sebagai seorang seniman."
Dengan berbagai kemampuannya Herry Dim menabrak, memasuki, dan menjelajah wilayah-wilayah proses untuk menghasilkan karya-karya seperti apa yang dihasilkan perupa-perupa lain. Keinginannya untuk membuktikan bahwa ia mampu seperti orang lain ditempuhnya dengan deretan tema karya. Menggambar alam bentuk dan pemandangan ia lakukan. Menggambar figur dan abstrak ia jalani. Hasilnya selalu cukup bagus, juga bisa diterima, termasuk oleh para kolektor. Dengan pengembaraan itu pula, masuklah ia ke Mandala purbawi hingga kabel-kabel komputer dan rimba kemanusiaan yang rimbun serta menyibak hiruk-pikuknya tingkah polah manusia. Mitos-mitos menjadi hamparan pencucian konsep-konsepnya, religi menjadi payung hajat spiritualitasnya, alam dan manusia menjadi lahan penggalian terhadap pemetaan ketegangannya.
Realitas itu tak bakal jadi karya apabila Herry Dim tak larut di dalamnya. Kemampuan dan kesadaran berfikirnya dijadikan perentang jarak untuk menarik pelatuk sikap kritis terhadap karya-karyanya maupun dialektika terhadap pandangan-pandangan orang lain tentang karya-karyanya.

Karya-karyanya

Tahun ini (2000) Herry Dim berusia 45. Apabila ia mulai memasuki dunia seni sejak usia 20 tahun, maka tanpa disadarinya telah 25 tahun ia menekuni dan menggeluti dunia kreatif. Sepanjang waktu ini, kalaulah seorang seniman tidak banyak melahirkan karya-karya kreatif yang berarti dan berharga, alangkah konyolnya. Sebaliknya, jika telah mampu ia lahirkan berbagai fase-fase kreatifnya, sungguh cukup luar biasa. Tapi memang Herry Dim banyak maunya (baca : banyak will-nya, banyak kehendaknya), maka tak heranlah apabila tentu ia sudah menghasilkan karya-karya yang dapat kita bicarakan. Karya-karya Herry Dim dalam berbagai bentuk dan manifestasi pikiran dan wujud kreatif tak bisa dipilah ke dalam pengelompokan antara tata artistik pentas, teater, sastra, musik, tari dan seni rupa. Mengapa demikian ?
Setiap karya pikiran dan visual Herry Dim merupakan akumulasi pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan dari sekian disiplin kreativitas seni. Analogi yang agak berlebihan baginya ibarat seorang dalang. Dari gagasan-gagasannya muncul pencarian bahan, pergulatan teknis, peracikan media, penuturan narasi, dan pertanggungjawaban pikiran. Karya-karya seni rupanya dapat dibedah melalui kepentingan berbagai penuturan bahasa, teks, narasi estetik, kendati tidak bisa menjawab keajegan semua komponen yang tergolong bagus dan 'sempurna'. Perlu ditegaskan demikian karena Herry Dim bukan seniman yang berlebihan kemampuan, masih banyak kekurangan yang dimilikinya. Sebab, disamping sebagai kreator, dari segi proses perwujudan karya-karyanya Herry Dim melakukan pula praktek 'pengintipan', 'pengutipan', dan 'penerjemahan' terhadap hal-hal penting yang dilakukan seniman lain. Saya kira ini pun masih bisa dianggap wajar, karena Herry Dim selalu sadar bahwa dirinya senantiasa melakukan proses belajar, proses menuju matang, proses menjadi dirinya. Di sini justru Herry Dim adalah peracik dan peramu yang cukup handal.
Sebagai perupa yang bergaul dengan berbagai disiplin penekunan seni, Herry Dim memiliki lingkaran peta kesenian yang luas. Ia selalu mencoba menempatkan dirinya di dalam lingkaran itu pada posisi yang tepat dan dengan modal kerendah-hatiannya. Terutama karena pengalaman di dunia teater-nya yang kental, Herry Dim kerap memulai kepekaan artistiknya dengan segala kesiapan tekstual dan komposisi bahasa pengungkapan. Ia terkadang memulai suatu langkah kreatifnya dengan awalan yang terlampau rasional. Akan tetapi Herry Dim pasti menyadari bahwa rasionalisasi membuat dunia menjadi terlampau tertib kendati dapat diandalkan, namun ia tak dapat membuat dunia menjadi bermakna (meminjam pikiran Bryan Turner). Sementara itu Herry Dim cukup cermat memanfaatkan dunia teater yang selalu percaya kepada kebebasan permainan sukma yang memberinya sentuhan improvisasi terhadap bentuk, komposisi, gesture, watak, dan nuansa. Permainan inilah yang menopang Herry Dim melakukan langkah-langkah menuju keyakinan intuisi yang mengalir. Perpaduan antara kemampuan rasional, taste artisitik, dan improvisasi intuitif pada diri Herry Dim mampu menciptakan arena permainan yang rindu terhadap kehendak untuk melahirkan 'sesuatu yang baru'.
Kekhasan untuk melahirkan 'sesuatu yang baru' (Herbert Read mengistilahkan sebagai 'realitas baru') memang kekhasan para modernis. Sesuatu yang baru ini berpihak kepada sesuatu yang tidak realistis, tidak pula mencoba merasuki realitas (alam, manusia, dan kemanusiaan). Andalan utama dalam praktik ini lebih berpihak kepada kemampuan rasional yang diagung-agungkan (kemampuan yang cukup lama dipeluk oleh para perupa modernis, termasuk pernah laten digenggam para perupa modernis di Bandung). Herry Dim pernah ketularan beranggapan demikian sebagai upaya untuk beradaptasi dengan lingkungan seni rupa abstrak di Bandung yang pernah menghimpitnya. "Dan hampir setiap kesempatan, selalu saya berpendapat, bahwa seni abstrak merupakan puncak dari rasionalisasi kesenian," tulisnya. Pameran tunggalnya yang bertajuk Senirupa Ritus - Ritus Senirupa serta-merta mengacu kepada anggapan demikian. Akan tetapi kenyataannya Herry Dim tidak sepenuhnya berpihak kepada seni rupa abstrak. Ia tetap pada kepedulian terhadap ikon-ikon yang lebih jelas, lebih riil, dan lebih otonom figuratif.
Satu-satunya warisan fase pameran tunggal pertamanya adalah soal penghadiran barik (tekstur). Di pelataran seni rupa di Bandung tahun 80-an kecenderungan menghadirkan unsur barik sempat sanggat menggejala. Herry Dim sangat terpikat, pada setiap kesempatan ia seakan-akan selalu ingin membicarakan perkara barik dengan fasih. Bahkan hingga kini pun bahasa visual barik masih terus cenderung dihadirkan. Pada fase-fase yang telah dilaluinya, unsur barik terus mengikuti, seperti pada fase istirah (demikian saya pernah menyebutnya, 1984), yakni saat karya-karya Herry Dim yang turut larut dalam Boom Seni Lukis Indonesia (meminjam istilah yang dikemukakan Sanento Yuliman, 1984-1989). Begitu pula pada fase pengangkatan pelataran terdekat (unsur-unsur visual seni tradisional dan objek-objek pemandangan alam) dan objek-objek emphasis dunia kanak serta beradaptasi dengan dunia puisi. Fase yang cukup panjang dalam karya-karya Herry Dim adalah saat ia 'berhasil' menggabungkan pelataran terdekat dengan membaca penerjemahan karya-karya kaum maestro modernis (Marc Chagall, Pablo Picasso, Joan Miro, dan Kandinsky).
Teks visual karya-karya Herry Dim dalam banyak hal merangkul dunia mitologi, tribal, tradisional, dan fargmen-fragmen instrumentalistik. Penelusuran panjang terhadap berbagai dunia ini menyebabkan Herry Dim bisa sangat mahfum dengan narasi simbolik yang berbicara soal via mimesis, wilful nostalgia, dan fragmen-fragmen konteks sosial (termasuk politik). Kemahfuman terhadap narasi-narasi ini ditunjukannya saat ia menyodorkan tema Sepuluh Orang Utusan (puisi-puisi Saini KM), Daya Hidup (seri Pohaci), Lamento (duka cita) dan seri Pertumbuhan. Pengalaman dan pergelutan empiriknya di dunia jurnalistik dengan perjalanan ke berbagai lapisan rimba ritual, sosial, dan spiritual membangun citra gagasannya kepada bahasa-bahasa simbolik yang karikatural. Karya seri perjalanannya itu dituangkan ke dalam sembilan bingkai berukuran cukup besar, perpaduan cermin dunia mitologi, kritik sosial-politik, dan duka panjang sebuah negeri. WS. Rendra memperkuat ungkapan teks visual Herry Dim dengan puisi yang menggetarkan:

Bulan berdarah dalam prasasti sejarah.
Ilalang bergoyang.
Nyanyian malam hutan Priangan.
Pisau kiriman angin.
Selendang sutra alam gaib.

Mama !
Bau lembut dan dalam dari Kudukmu.
Merah jambu puting susu
dalam nyanyian sepanjang masa.

Dalam karya ini Herry Dim telah mengerjakan bingkai teks visual dari akumulasi dunia sastra, teater, musik, dan tari dalam repertoar fragmen-fagmen yang sangat posterik dan ekspresi pikiran yang sangat naratif. Herry Dim menaruh catatan kaki seorang pejalan dan penyaksi sejarah, berisi tentang : sebuah realitas retorika yang rewel tanpa makna, api perebutan kekuasaan yang seharusnya telah padam, kepalan-kepalan kekerasan yang tak kunjung usai, kebebalan moral ibarat batu berlumut di kubangan, pelecehan akibat kekuasaan senjata, perdamaian yang hanya simbol dan moto-moto bisu, pertumbuhan sejarah yang tanggal, hidup keseharian yang panas dan gerah, berita-berita yang membingungkan. Semuanya ibarat sebuah prasasti bermandi ketegangan dan kekerasan dari sebuah negeri drama yang selalu mengingatkan betapa tangisan Ibu Pertiwi tak pernah menyadarkan nurani manusia-manusia yang gemar menuliskan berita-berita kedukaannya.

Pohaci Sang Pertiwi,
menjaga pertumbuhan, kesuburan.
Di sini, sebutir padi sukar dicari,
diantara sepatu lars dan kekerasan.
Yang kujumpai duka panjang, dari tanah air kaya
yang tengah dipermiskin, entah oleh siapa.

***

Mamannoor, penulis seni rupa, menetap di Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar